Mungkinkah Suatu Hari Sempadan Geografi Malaysia-Indonesia Mencair…?

MUNGKINKAH suatu hari nanti sempadan geografi Malaysia-Indonesia mencair.

Kecairan itu boleh berlaku atas beberapa sebab yang menguntungkan kedua-dua belah pihak, sehingga tidak muncul lagi ‘aku orang Indonesia’ atau ‘aku orang Malaysia’ tetapi gagasan baru terbentuk mungkin dengan nama ‘aku adalah peribumi’ atau ‘Aku Bumiputera’, malah konsep kenegaraan juga bertukar dengan nama geografi baru.

Cita-cita berkenaan pernah wujud kepada beberapa pejuang tanah air antara kedua-dua negara yang dipisahkan secara geografi ini, tetapi akhirnya terpadam oleh takdir sejarah.

Nasionalis dulu mahu penyatuan ini dengan nama ‘Melayu Raya’ dan di sebelah Indonesia mahukan ‘Indonesia Raya’.

Dalam laman web Cari, di bawah tajuk ‘Kisah Indonesia Malaysia Yang Hampir Disatukan’ menyatakan seperti berikut:

melayuraya
Indonesia Raya (politik)] Indonesia Raya atau Melayu Raya adalah gagasan atau konsep politik yang bertujuan mempersatukan rumpun bangsa Melayu dalam kesatuan negara kebangsaan dengan menggabungkan wilayah koloni Britania Raya di Semenanjung Malaya dan Borneo Utara (wilayah yang kini membentuk negara Malaysia, Singapura, dan Brunei), dengan Hindia-Belanda (kini Indonesia).

Gagasan Melayu Raya diajukan oleh para pelajar dan alumni Universitas Pendidikan Sultan Idris, Malaya Britania, pada tahun 1920-an, dan kemudian gagasan yang sama yang disebut Indonesia Raya diajukan oleh para tokoh politik Indonesia dari Sumatera dan Jawa, seperti Muhammad Yamin

Pertumbuhan gagasan di era kolonial] Gagasan Melayu Raya ini diajukan oleh seorang guru sejarah dari Universitas Pendidikan Sultan Idris, Abdul Hadi Hassan, Malaya Britania.

Selain karena persamaan suku bangsa, bahasa, agama, dan budaya kebanyakan rakyatnya sebagai bangsa serumpun dan serantau di Nusantara, gagasan ini didasari kesadaran sejarah bahwa wilayah Malaya Britania, Borneo Utara, dan Hindia-Belanda dulu pernah dipersatukan dalam sebuah kemaharajaan raya, seperti Sriwijaya, Majapahit, Kesultanan Malaka, dan Kesultanan Johor-Riau, hingga akhirnya dipisahkan oleh kolonialisme Inggris dan Belanda.

Pada akhir dekade 1920-an gagasan membentuk negara kebangsaan yang merdeka dan berdaulat tumbuh di antara rakyat koloni Hindia-Belanda. Sementara di Semenanjung Malaya gagasan untuk membentuk Melayu Raya diajukan, di Hindia-Belanda tokoh pemuda pergerakan nasional lebih memusatkan perhatian pada gagasan untuk menyusun negara kebangsaan Indonesia sebagai pewaris Hindia-Belanda jika kelak menjadi negara merdeka. Pada tahun 1928 dicetuskanlah Sumpah Pemuda yang bertujuan mempersatukan bangsa Indonesia dalam satu tanah air, satu bangsa, dan menjunjung bahasa persatuan.

Kelompok nasionalis Melayu; Kesatuan Melayu Muda, yang didirikan oleh Ibrahim Yaakob pada tahun 1938, adalah salah satu organisasi yang secara tegas menganut gagasan ini sebagai cita-cita perjuangannya.

Masa pendudukan Jepang] Pada saat Perang Dunia II para pendukung gagasan Indonesia Raya atau Melayu Raya bekerja sama dengan kekuatan tentara pendudukan Jepang untuk melawan Inggris dan Belanda.

Sikap bekerja sama ini didasari dengan harapan bahwa Jepang akan mempersatukan Hindia-Belanda, Malaya dan Borneo dan kemudian memberikan kemerdekaan. Dipahami bahwa dengan bersatunya wilayah koloni Eropa ini dalam suatu wilayah pendudukan Jepang, maka pembentukan sebuah kesatuan negara Indonesia Raya atau Melayu Raya dimungkinkan. Pada bulan Juli 1945 dibentuk KRIS (Kesatuan Rakyat Indonesia Semenanjung), yang kelak diubah menjadi “Kekuatan Rakyat Indonesia Istimewa” di bawah pimpinan Datuk Ibrahim Yaakob dan Dr. Burhanuddin Al-Hemy dengan tujuan mencapai kemerdekaan dari Inggris, dan persatuan dengan Indonesia. Rencana ini sudah dirundingkan dengan Sukarno dan Hatta.
parliament malaysia
Pada 12 Ogos 1945 Ibrahim Yaakob bertemu dengan Sukarno, Hatta dan Dr. Radjiman di Taiping, Perak. Sukarno dan rombongan singgah di bandar udara Taiping dalam perjalanan pulang dari Saigon, Vietnam, menuju Jakarta setelah sebelumnya bertemu dengan Marsekal Terauchi di Dalat untuk membicarakan mengenai percepatan rencana kemerdekaan Indonesia dan menerima pernyataan Terauchi secara langsung bahwa Jepang mengizinkan Indonesia merdeka.Pada pertemuan ini Yaakob menyatakan niatannya untuk menggabungkan Semenanjung Malaya ke dalam Indonesia merdeka.

Pada pertemuan singkat ini Sukarno dengan didampingi Hatta menjabat tangan Yaakob dan berujar, “Marilah kita membentuk satu tanah air untuk seluruh putra-putri Indonesia.”

Sukarno dan Muhammad Yamin adalah tokoh politik Indonesia yang sepakat dengan gagasan persatuan raya ini. Akan tetapi mereka enggan untuk menyebut gagasan ini sebagai “Melayu Raya” dan menawarkan nama lain yaitu “Indonesia Raya”. Pada hakikatnya baik Melayu Raya maupun Indonesia Raya adalah gagasan politik yang sama persis. Keengganan untuk menamai Melayu Raya karena berbeda dengan di Malaya, di Indonesia istilah Melayu lebih merujuk kepada suku Melayu yang dianggap hanyalah sebagai salah satu dari berbagai suku bangsa di Nusantara, yang memiliki kedudukan yang setara dengan Minangkabau, Aceh, Jawa, Sunda, Madura, Bali, Dayak, Bugis, Makassar, Minahasa, Ambon, dan lain sebagainya. Penghimpunan berdasarkan ras atau suku bangsa “Melayu” dikhawatirkan rawan dan kontra-produktif dengan persatuan Indonesia yang mencakup berbagai suku bangsa, agama, budaya, dan ras; karena banyak suku bangsa di Indonesia Timur seperti orang Papua, Ambon, dan Nusa Tenggara Timur, bukanlah termasuk rumpun Melayu Austronesia, melainkan rumpun bangsa Melanesia.

Akan tetapi pada tanggal 15 Agustus 1945 Kaisar Hirohito tiba-tiba mengumumkan lewat siaran radio bahwa Jepang menyerah tanpa syarat kepada kekuatan Sekutu. Republik Indonesia secara mandiri memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Karena dituding sebagai kolaborator Jepang, pada tanggal 19 Agustus 1945 Ibrahim Yaakob dengan menumpang pesawat terbang militer Jepang terbang ke Jakarta. Ibrahim Yaakob mengungsi ke Jakarta bersama isterinya Mariatun Haji Siraj, iparnya Onan Haji Siraj dan Hassan Manan. Ibrahim Yaakob yang memperjuangkan gagasan bersatunya Semenanjung Malaya dengan Indonesia kemudian bermukim di Jakarta hingga akhir hayatnya. Dengan jatuhnya Jepang pada bulan Agustus 1945, semua cita-cita persatuan itu praktis mati dan tidak berkembang lagi di Semenanjung Malaya sejak saat itu.

Selepas proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, melalui perjuangan bersenjata dalam Revolusi Nasional Indonesia dalam kurun tahun 1945-1949, Republik Indonesia akhirnya mendapatkan pengakuan kedaulatan dari Kerajaan Belanda dalam Konferensi Meja Bundar tahun 1949. Sementara itu selepas pendudukan Jepang, Semenanjung Malaya dan Borneo Utara praktis berada di bawah kekuasaan dan kendali Britania Raya.

Konfrontasi dan Indonesia Raya] Pada akhir dasawarsa 1950-an, Sukarno secara tegas menolak pembentukan negara Malaysia oleh Britania Raya yang mencakup Semenanjung Malaya dan Borneo Utara. Sikap politik ini mengarah kepada Konfrontasi Indonesia-Malaysia pada awal dasawarsa 1960-an berupa peperangan skala kecil yang tidak diumumkan secara resmi. Sukarno menuding bahwa negara Malaysia adalah negara boneka bentukan Inggris yang ingin membentuk kolonialisme dan imperialisme baru di Asia Tenggara dan mengepung Indonesia. Akan tetapi analisis lain menduga bahwa peperangan ini sesungguhnya merupakan ambisi Sukarno yang hendak mempersatukan Semenanjung Malaya dan seluruh pulau Kalimantan ke dalam wilayah Indonesia untuk menggenapi wilayah kebangsaan yang lebih luas yaitu “Indonesia Raya”.

Menjelang akhir 1965, kekuasaan Sukarno runtuh dan Jendral Suharto mengambil alih kekuasaan di Indonesia setelah berlangsungnya G30S/PKI. Karena konflik domestik ini, keinginan Indonesia untuk meneruskan perang dengan Malaysia menjadi berkurang dan peperangan pun mereda. Pada 28 Mei 1966 di sebuah konferensi di Bangkok, Kerajaan Malaysia dan pemerintah Indonesia mengumumkan penyelesaian konflik. Kekerasan berakhir bulan Juni, dan perjanjian perdamaian ditandatangani pada 11 Agustus dan diresmikan dua hari kemudian. Dengan perjanjian damai ini maka Indonesia dan Malaysia resmi menjadi dua entitas negara bangsa yang terpisah dengan saling mengakui keberadaan dan kedaulatan masing-masing.

Selepas perjanjian perdamaian dengan Malaysia, Indonesia disibukkan dengan masalah dalam negerinya yakni berusaha membangun ekonomi sambil menjaga persatuan negara yang sangat majemuk, akibatnya pada era pemerintahan Suharto untuk menjamin stabilitas dan demi persatuan maka kebebasan dan demokrasi dikorbankan. Indonesia pada tahun 1975 sempat menguasai bekas koloni Portugal Timor Timur hingga akhirnya merdeka tahun 2002 sebagai Timor Leste, dan kemudian didera berbagai masalah seperti krisis ekonomi, separatisme di Aceh dan Papua, hingga masalah terorisme. Indonesia akhirnya lebih tertarik dan memusatkan perhatiannya untuk “menjadi Indonesia” dengan membangun karakter bangsa dan berupaya mendefinisikan dirinya sebagai negara-bangsa yang majemuk ber-Bhinneka Tunggal Ika berdasarkan Pancasila dan bersatu dengan wilayah membentang dari Sabang sampai Merauke.[8] Sebagai negara terbesar di Asia Tenggara, Indonesia cenderung cukup puas menyalurkan hasrat, kekuatan, dan ambisi politik regionalnya dalam bentuk sikap kepemimpinan di antara negara ASEAN.

Sementara Malaysia tengah bergulat dalam upaya pembentukan negaranya dan menghadapi masalah dalam hubungan antar-ras, terutama antara mayoritas etnis Melayu dengan minoritas etnis Tionghoa dan India Hindu hingga kini.[9] Masalah hubungan antar-ras inilah yang telah mengakibatkan berpisahnya Malaysia dengan Singapura pada dasawarsa 1960-an. Sementara Brunei tidak menghendaki bergabung dengan Malaysia dan memilih di bawah kekuasaan Britania Raya hingga tahun 1984. Dengan masing-masing pihak sibuk dalam urusannya sendiri, maka gagasan pembentukan kesatuan politik raya yang mempersatukan bangsa Melayu serumpun dan serantau dalam satu negara besar yaitu Melayu Raya atau Indonesia Raya punahlah sudah.
abduh jamil
Artikel itu memberikan gambaran betapa cita-cita untuk mencairkan geografi berkenaan hampir menjadi kenyataan jikalau Jepun sempat menyatukannya hasil persetujuan nasionalis, dengan menghalau penjajah Belanda di Indonesia dan penjajah Inggeris di Malaysia.

Agama dan pendidikan boleh menjadi teras utama kepada penyatuan ini dengan tingginya semangat untuk menjadikan ketuanan Islam atau ketuanan al-Quran, walaupun usaha ini bukanlah semuadah tertulis di laman web ini.

Ini kerana perpecahan dalam mazhab Islam sesama mazhab Shafie pun bukanlah mudah untuk disatukan kerana terlampau ramai yang ‘terlampau pandai’ agama, hingga menyebabkan sesuatu kumpulan ingin menjadikan firkahnya lebih Islamik berbanding dengan firkah orang lain, malah di Malaysia perbezaan politik turut memecahkan lagi kabilah Melayu.

Melayu dalam konteks Malaysia ini merangkumi Bumiputera yang mewakili ‘darah nusantara’ dan kepada rakyat Malaysia, majoriti orang Indonesia berketurunan Melayu walaupun istilah Melayu ekpada negara itu hanyalah satu suku kaum dengan banyak lagi suku kaum lain.

Sedangkan, keturunan Melayu Malaysia dan Indonesia hampir tiada bezanya dari segi warna kulit, bahasa dan darah nusantara.

Namun begitu, usaha dan hubungan kekeluargaan perlu terus disuburkan di antara rakyat kedua-dua negara ini, supaya akhirnya akan membentuk entiti baru untuk berhadapan dengan dunia yang sempadannya lebih luas, seperti mana terjalinnya hubungan aus dan khazraj, seperti tergabungjalinnya muhajirin dan ansar ketika zaman Rasulullah s.a.w

Advertisements

2 thoughts on “Mungkinkah Suatu Hari Sempadan Geografi Malaysia-Indonesia Mencair…?

  1. Ini artikel yg sangat menyentuh hati saya sebagai orang indonesia. Salut pada artikel anda yang tidak mengandung provokasi dan melihat indonesia sebagai negara yg bersahabat. Seandainya rakyat malaysia menulis di blog seindah anda,niscahya kerukunan antar bangsa tetap kukuh. Yg sangat di sayangkan bahwa banyak blogger malaysia justru membuat artikel yg merendah kami bangsa indonesia. Andai kita menulis artikel yg bersahabat,tak perlu satu negara pun kita bisa rukun kok..

    Salam dari saya orang Indonesia

    Like

  2. Menarik. Bukan tidak mungkin suatu saat terjadi. Namun saat ini “menjadi Indonesia” bagi Indonesia, dan “menjadi Malaysia” untuk Malaysia terdengar lebih masuk akal. Pendekatan budaya dan agama merupakan salah satu cara yang tetap harus dilanjutkan.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s