Biografi dan Cara Berfikir Hamka – Prof Syafii Maarif

Oleh Prof Ahmad Syafii Maarif

Pendahuluan

Sabtu pagi, 8 Juni 2013, Prof. James R. Rush dari Arizona State University, berkunjung ke tempat tinggal saya di Jakarta, untuk bertukar fikiran tentang Islam di Indonesia, khususnya tentang pemikiran H. Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka). Saat saya tanyakan mengapa tertarik untuk meneliti Hamka, jawaban yang diberikan adalah: “Bermula dengan membaca novel-novel Hamka, seperti Merantau ke Deli, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, berlanjut kepada karya-karya besar lainnya, termasuk Tafsir al-Azhar.”

Selama puluhan tahun kemudian, James Rush telah meneliti pujangga, pemikir, alim, mufassir, dan sastrawan seorang Hamka yang fenomenal dan multitalented ini untuk menyiapkan sebuah karya di bawah judul Hamka’s Great Story: Islam for Indonesia, yang sekarang dalam proses penerbitan.

Jika seorang Amerika punya minat besar untuk memahami Hamka lebih dalam, kita orang Melayu tentu tidak boleh ketinggalan. Hamka adalah seorang di antara mutiara yang pernah dilahirkan Dunia Melayu, seperti halnya juga penulis Raja Ali Haji yang termasyhur itu. Dengan pengantar ini, saya juga ingin turut serta membaca pemikiran Hamka, seorang manusia merdeka, pencari kebenaran (a free man who seeks the truth), yang berdimensi banyak itu, sekalipun dengan segala keterbatasan bacaan yang saya miliki.

AR-Sutan-MansurHamka, pengaruh sang ayah, dan tempatnya di tengah kehidupan bangsa

Sudah cukup banyak kajian dan ulasan yang diberikan oleh beberapa penulis tentang siapa Hamka, seorang self-made man, yang fenomenal, seorang yang daya ingatnya melebihi kebanyakan manusia. Sudah berapa tesis dan disertasi yang ditulis orang tentang pemikiran tokoh yang tidak punya ijazah ini. Masa kecilnya yang tidak teratur, sehingga ayahnya menjadi putusasa. Hamka lahir di Tanjungsani, tepi danau Maninjau yang permai, kabupaten Agam, Sumatera Barat, pada 17 Feb. 1908, dan wafat di Jakarta pada 24 Juli 1981/22 Ramadhan 1401 dalam usia 73 tahun lima bulan karena sakit diabetes dan jantung. Menarik untuk dikutip pernyataan kakak iparnya yang sekaligus guru spiritual Hamka, A.R. Sutan Mansur, yang terus mengamati perjalanan manusia berbakat ini sebagai berikut:

“Dari kecil dalam diri Abdul Malik Karim Amrullah memang sudah ada tanda-tanda akan menjadi orang besar. Kata dan fikirannya selalu didengar oleh teman-teman sebayanya, menjadikan dia selalu menonjol dalam pergaulan. Amat disayangkan ayah kami DR. H. Abdul Karim Amrullah tidaklah memahami hal itu, maka pada tahun 1925 saya berada di Pekalongan, Abdul Malik mengunjungi saya, maka mulai tahun itu saya mendidik dan mengarahkannya, sehingga sekarang telah sama-sama kita temui seorang Prof. Dr. Hamka.”

A.R. Sutan Mansur adalah guru spiritual kedua bagi Hamka sesudah ayahnya. Pengakuan Hamka di bawah menjelaskan jasa kedua tokoh itu terhadap dirinya: “…tidak boleh pula kita lupakan orang yang telah bejasa kepada diri kita sendiri, sehingga membuahkan pekerjaan yang sebagai ini [Tasauf Modern], yaitu dua orang guru kita, pertama yang mulia ayahanda Dr.H. Abdulkarim Amrullah yang kedua tuan Ahmad Rasjid Sutan Mansur…” Apa yang kurang dari ayahnya, dilengkapi oleh kakak iparnya yang juga seorang alim, murid dan menantu ayahnya.

Pengamatan Sutan Mansur terhadap Hamka amat penting untuk dicatat, sebab di bawah bimbingan dan arahannya, Hamka kemudian semakin menemukan jati diri dan bakatnya, sesuatu yang tidak selalu didapatkannya dari ayahnya sendiri, khususnya mengenai pengembangan potensi diri yang telah tampak pada Abdul Malik kecil. Lebih tragis dari itu, orang tuanya telah bercerai saat Hamka baru berusia 12 tahun. Perceraian ini amat membekas dalam jiwa Hamka. Inilah kenangannya: “Alangkah pahitnya masa kanak-kanak ayah.” Inilah ungkapan Hamka kepada Rusydi, puteranya. “Pergi ke rumah ayah bertemu ibu tiri, ke rumah ibu, ada ayah tiri,…”

Hamka telah kehilangan kasih sayang ayahnya di usia dini itu. Sekalipun punya kenangan pahit, rasa hormat seorang anak terhadap ayah tak pernah pupus dimakan musim, Hamka sebelumnya pernah “bertualang” ke Bengkulu untuk melepaskan kegelisahan batinnya tanpa memberi tahu ayahnya. Ketika itu si nakal ini, usianya baru 15 tahun. Baru setelah pulang dari menunaikan ibadah haji saat Hamka berusia 19 tahun, ayahnya menunjukkan kebanggaan kepada anaknya yang kehilangan kasih sayang itu. Hamka sekarang telah kembali ke pangkuan ayahnya setelah mengembara mencari jati diri (self identity), mencari kebenaran, mencari hakekat hidup, sesuatu yang dirindukannya sejak lama.

Tetapi Hamka tidak pernah melupakan inti sari ajaran ayahnya berupa: “…  kebebasan fikiran, keberanian menegakkan kebenaran dan timbulnya pribadi-pribadi.” Para murid Abdul Karim Amrullah yang bertebaran di berbagai tempat dikenal di kemudian hari sebagai pribadi-pribadi merdeka, punya kepercayaan diri yang tinggi, sesuai dengan ajaran yang diberikan gurunya, bahkan ada yang menentangnya. Semuanya ini bagi Abdul Karim Amrullah adalah pertanda dari keberhasilannya sebagai guru. Dengan senang dikatakannya: “Seorang guru yang jujur, haruslah berniat agar muridnya lebih pintar dari dia. Tetapi seorang murid yang jujur harus pula mengakui siapa gurunya.”

Tenggelamnya-vanderwijkBakat kepengarangan Hamka semakin tersalur dengan baik dengan sumber bacaan yang luas terjadi ketika menjadi pemimpin redaksi majalah mingguan Pedoman Masyarakat di Medan (Sumatera Utara) selama enam tahun (1936-1942). Di masa inilah muncul novel seperti Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Merantau ke Deli, dan lain-lain. Menurut kesaksian sahabatnya M. Yunan Nasution, inspirasi Hamka untuk mengarang justru banyak muncul pada waktu siang, antara jam 11.00-13.00. Ini berbeda dengan kebanyakan penulis yang mencari saat-saat sunyi di malam hari untuk berkarya. Malam hari lebih banyak digunakan Hamka untuk membaca. Kita tidak tahu sudah berapa ribu buku yang dikunyahnya sejak umur belasan tahun sampat saat tuanya. Mingguan Pedoman Masyarakat telah melambungkan nama Hamka di langit sastra Indonesia. Dalam dunia tulis menulis, Hamka mengikuti resep ini: ‘Seorang pengarang harus lebih banyak membaca daripada menulis.’ Dengan banyak membaca seorang pengarang tidak akan kehabisan sumber ilham untuk disampaikan kepada publik. Kekurangan bacaan, hasil karangan akan terasa kering dan dangkal.

Dalam menilai ayahnya, Hamka berusaha sejujur dan sejernih mungkin. Inilah kutipannya: “Beliau orang besar dalam kekuatan dan kelemahannya. Beliau orang besar dalam kemarahan dan tangisnya. Beliau orang besar dalam matanya yang bersinar berapi-api dan tubuh yang kurus kering!” Sekalipun sering marah, Abdul Karim Amrullah tidak pernah menyimpan dendam dalam hatinya, termasuk tidak dendam kepada lawan-lawan penentangnya dalam faham agama yang masih membela sikap taqlid, sesuatu yang sangat tidak disukainya.

Hamka mewarisi sifat-sifat ayahnya ini, tetapi melalui anyaman yang lebih halus, bijak, dan lapang dada, sekalipun sifat pemarahnya kadang-kadang muncul juga ketika melihat sesuatu yang tidak beres. Kebanggaan kepada sang ayah tidak membuat Hamka hanya berhenti sekadar memujinya. Sifat negatif dari seorang ayah tidak luput dari rekamannya: “Tetapi kalau timbul marahnya, misalnya ketika dibantah salah satu perkataannya, bersemburanlah air ludahnya, karena tidak cukup kekuatan mulut melepaskan perkataan-perkataan yang akan berhamburan ke luar. Ayat, Hadits, Syair, Pepatah Arab, dan lain-lain. Pendeknya ‘pantang tersinggung!’ Kalau beliau didebat dengan alasan yang tidak cukup, beliau tidak segan menunjuk lawannya itu dengan tangan kirinya. Padahal itu termasuk melanggar adat!”

Itulah Hamka, yang juga seorang sejarawan, mengatakan apa adanya, tidak dilebih-lebihkan. Yang fakta dikatakan fakta, sekalipun hal itu bertalian dengan sifat ayahnya. Baginya, kebenaran fakta tidak boleh ditutupi, sejalan dengan pribasa Minangkabau: “Tiba di dada tidak dikempiskan, tiba di mata tidak dipicingkan.” Hamka yang bergelar Datuk Indomo itu sangat memahami seluk beluk adat Minangkabau dengan segala pepatah-petitihnya yang bernilai sastra tinggi, tetapi sisi-sisinya yang buruk dilawannya.

Dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Hamka mengeritik keras adat Minang yang tidak bisa menerima seorang Zainuddin (ayah Minang, ibu Bugis) untuk menjadi suami Hayati yang asli Minangkabau, sekalipun keduanya sudah saling mencintai. Cinta terhalang  oleh tembok adat yang “tak lekang karena panas, tak lapuk karena hujan” Di mata Hamka adat yang seperti ini sama saja dengan batu yang perlu dikaji dan ditinjau kembali seirama dengan kehendak zaman. Tetapi alangkah sulitnya melawan adat di era itu. Baru sesudah Indonesia merdeka segala kekakuan adat Minang telah mulai mencair, karena sistem adat itu tidak boleh menjadi batu.

Benarlah penglihatan Sutan Mansur bahwa Hamka adalah orang besar yang bertahun-tahun ditempa penderitaan yang membuatnya menjadi manusia tahan banting dan halus perasaan. Penderitaan yang dialaminya justru menjadi tangga emas baginya untuk terus berkarya dan beramal: “mencari jalan pulang.” Maka tidaklah mengherankan berjibun rakyat dari segala golongan dan lapisan menangisi kepergian Hamka, sebab yang pergi itu mewakili hati nurani mereka.

Kompas

Harian Kompas, milik orang Katolik, menurunkan tajuknya sehari selepas Hamka wafat: “PENGENALANNYA yang mendalam mengenai manusia, tanah air dan bangsanya itulah kiranya yang memperkaya penghayatan agamanya, sehingga para pendengar khotbah-khotbahnya pun mudah terbuka hatinya. Selain Hamka memang juga seorang yang lincah bertutur-kata, sastrawan yang hidup gaya bahasanya…BAGAIMANA pun, Hamka termasuk putra Indonesia yang besar jasanya bagi nusa, bangsa serta agamanya.” Komentar yang lebih puitis disuarakan oleh harian Sinar Harapan, milik pihak Kristen, juga sehari setelah dimakamkan, sebagai berikut:

“ALMARHUM Buya Hamka adalah laksana berlian yang mempunyai banyak seginya. Masing-masing segi itu bercahaya dengan cemerlangnya.

Baik sebagai wartawan, sebagai sastrawan, sebagai pujangga, sebagai ahli filsafat, sebagai ahli agama, sebagai pembicara, Buya Hamka adalah tokoh yang brilian.

Beliau adalah ibarat bintang di cakrawala Indonesia yang cahayanya mencapai negara-negara bahkan benua-benua yang lain.

Dengan berpulangnya Buya Hamka ke Rahmatullah maka tidak hanya umat Islam saja melainkan seluruh negara dan bangsa Indonesia kehilangan seorang putra yang besar.”

Terlalu banyak yang merasa kehilangan dengan kepergian Hamka, bukan saja rakyat Indonesia, tetapi juga umat Islam Jepang.

Prof. Dr. Shawqi Futaki, Presiden Japan Islamic Congress, menyampaikan pesan dukanya sebagai berikut: “Atas nama 50.000 ummat Islam Jepang, kami sampaikan rasa duka cita yang sedalam-dalamnya atas berpulang kerahmatullah Prof. Dr. Hamka, tokoh Islam Indonesia, yang bagi kami adalah seorang pemimpin yang telah memberi bimbingan-bimbingan selama 4 tahun terakhir. Banyak bimbingan Buya Hamka bagi kemajuan ummat Islam Jepang. Ummat Islam Jepang benar-benar kehilangan seorang tokoh yang selama ini dirasakan dekat sekali.” Jika diperturutkan kata hati, menuliskan kenangan manis orang tentang Hamka ini tidak akan pernah habis. Terlalu banyak anak manusia yang merasa sangat dekat dengan pribadinya yang menawan itu.

Membaca pemikiran Hamka: anti taqlid, kemerdekaan akal, dan pluralism

muhammadiyahSekalipun secara teologis masih menyebut dirinya sebagai penganut faham ahlu al-sunnah wa ‘l-jamâ’ah, Hamka sesungguhnya telah berupaya untuk ke luar dari kotak-kotak sempit yang membelenggu fikiran dan hati umat Islam selama berabad-abad. Sikap anti taqlid (membabi buta) yang ditanamkan ayahnya sejak kecil sangat melekat pada jiwa Hamka. Masalah taqlid dan anti taqlid ini telah diperdebatkan para ulama Minangkabau sejak awal abad ke-20. Hamka yang mewarisi semangat anti taqlid dan pro ijtihad (berfikir merdeka dalam memahami agama) dari ayahnya dan ulama yang sefaham meneruskan gerakan itu melalui tulisan, tabligh, diskusi, dan media lain. Kemudian dengan berkembangnya Muhammadiyah (berdiri tahun 1912 di Jogjakarta) di Minangkabau yang membawa faham pembaruan, maka gerakan anti taqlid menemukan bentuknya yang lebih teratur.

Penjelasan Hamka tentang taqlid di antaranya adalah: “Dan agama yang dikerjakan hanya karena turut-turutan (taqlid) amat takut akan ujian akal. Dia lekas murka dan menuduh ‘keluar dari agama’ kalau ada orang menyatakan fikiran yang berbeda daripada apa yang diterimanya daripada guru-guru dan nenek moyangnya.” Selanjutnya dikatakannya: “Dan apabila telah timbul kebekuan itu, beku pulalah faham agama dan tidak lagi bercahaya sinarnya. Itulah yang bernama ‘Taqlid’. Taqlid adalah musuh kemerdekaan akal.”

Bagi Hamka, manusia yang tidak memiliki kemerdekaan akal tidak akan merasakan kelezatan dan kepuasan iman. Kemerdekaan akal bertali-berkelindan dengan ilmu pengetahuan. Lalu ayat al-Qur’an dikutip untuk membedakan manusia berilmu dan manusia tanpa ilmu yang artinya: “Adakah akan bersamaan orang yang berpengetahuan dengan orang yang tidak berpengetahuan?”

Keterangan Hamka lebih lanjut tentang akal yang hanya diberikan Allah kepada manusia sangat berkesan untuk kita turunkan di bawah ini:

Siapa sebenarnya yang empunya akal itu? Sebagaimana barang yang lain yang ada di diri tuan, boleh tuan katakan bahwa tuanlah yang empunya dia. Tetapi kalau difikirkan lebih dalam, tidak ada yang tuan punya. Akal itu sendiri sepintas lalu boleh tuan katakan adalah alat tuan sendiri buat hidup. Dan lebih dalam lagi, tidak dapat tuan mengakuinya bahwa akal yang ada pada tuan itu, adalah alat kepunyaan Allah sendiri, dipinjamkannya kepada diri tuan, karena tuan akan dipergunakan oleh Allah mencapai maksud qudrat iradatNya yang lebih besar, lebih tinggi, lebih jauh, dalam keseluruhannya.

Tidak ada kekuasaan tuan mempergunakan akal tuan sendiri, di luar batas ketentuannya yang telah ada!

Dengan demikian, akal manusia hanya bisa berfungsi dalam koridor yang telah digariskan Allah. Di luar itu, akal tidak punya kuasa apa pun.

Hamka juga berbicara tentang kaitan ilmu dan filsafat yang keduanya diperlukan manusia untuk memahami ‘yang ada.’ Ilmu dan filsafat bertakhta dalam akal manusia. Tetapi jangkauan ilmu itu terbatas yang kemudian dibantu dan diteruskan oleh filsafat. Maka Hamka berdalil: “ …akhir dari ilmu adalah awal filsafat.” Posisi akal dalam kehidupan manusia sangat sentral. Undang-undang yang terdapat di alam semesta tidak mungkin difahami manakala akal tidak difungsikan dengan baik.

Hamka menulis: “Tidak syak lagi bahawasanya alam ini diatur dengan undang-undang yang dapat diterima oleh dasar hukum yang ada dalam akal kita sendiri. Kalau undang-undang yang tidak dapat diterima oleh akal; itu pun lebih mustahil. Sehingga bolehlah ditegaskan bahwasanya memungkiri adanya akal, sama artinya dengan memungkiri adanya alam.”

Tetapi akal dengan segala kehebatan dan kedahsyatannya juga punya keterbatasan, seperti yang telah disinggung di atas. Manakala akal terbentur, maka datanglah wahyu untuk membantunya. Hamka menulis: “Setinggi-tinggi akal hanya dapat mengetahui khasiat barang yang ada, tetapi tak sanggup mencipta. Sekali lagi terlompatlah dari mulut: ‘Allah’…Beribu ahli fikir, beribu failasoof, beribu sarjana, membanting fikiran buat merenung dan menyelidiki ‘siapa dia’. Maka datanglah Nabi-nabi dan Rasul-rasul. Utusan dari yang memegang dan mencipta segala rahasia itu, menyampaikan jawab itu kepada seluruh pri-kemanusiaan. Dengan lidah mereka disampaikan: Ana Allâh lâ ilâha illâ ana (Akulah Allah. Tiada Tuhan, melainkan Daku). Itulah jawaban diberikan wahyu kepada akal manusia yang senantiasa bertanya dan bertanya, tanpa henti. Dan itulah filsafat yang pada akhirnya juga menghadapi jalan buntu untuk menjawab pertanyaan tentang sumber utama dari segala ‘yang ada ini.’

Ikuti Hamka dalam menggambarkan masalah ruwet dan pelik ini. “Kita berdiri ke tepi laut. Kita lihat ombak bergulung. Lalu kita bertanya:

-Mengapa ombak itu bergulung?

“Karena udara”

-Mengapa udara bergerak?

“Karena hawa panas”

-Dari mana datang panas itu?

“Dari matahari”

-Siapa yang meletakkan panas pada matahari?

……………………Diam!

tafsir-alazharBegitulah metode dan strategi Hamka dalam upaya menjelaskan ajaran Islam tentang iman kepada Allah dan masalah-masalah lain yang bercorak eskatologis, sesuatu yang tidak biasa dilakukan oleh para ulama Dunia Melayu. Hamka dengan wawasan keilmuan dan kebudayaannya yang luas telah mengenalkan sebuah pembaruan dalam memahami dan menafsirkan ajaran-ajaran agama yang memang tidak selalu mudah dicernakan. Maka tidaklah salah manakala Hamka dapat dikategorikan sebagai seorang pembaharu (mujaddid/reformer) yang berpengaruh. Tafsir al-Qur’an lengkap 30 juz dengan nama Tafsir al-Azhar adalah bukti lain tentang kepakarannya sebagai seorang mufassir.

Masih tentang masalah taqlid sebagai musuh manusia berakal. Dalam menafsirkan ayat 36 dari surat al-Isrâ’ yang melarang manusia bersikap taqlid, Hamka menulis: “Ayat ini termasuk sendi budi-pekerti Muslim yang hendak menegakkan pribadinya. Kita dilarang Allah menurut saja. “Nurut” menurut bahasa Jawa, dengan tidak menyelidiki sebab dan musabab. Sebagai seorang yang dilatih berfikir merdeka sejak masa muda, baik oleh ayahnya, maupun karena bacaan, Hamka adalah pembela prinsip ijtihad dalam memahami agama agar tetap segar dan dinamis dalam memberikan jawaban terhadap tuntutan zaman yang senantiasa berubah. Penjelasan Hamka berikut ini penting untuk dicermati:

Terang di sini bahwa orang yang hanya menuruti saja jejak langkah orang lain, baik nenek-moyangnya karena kebiasaan, adat-istiadat dan tradisi yang diterima, atau keputusan dan ta’ashshub pada golongan membuat orang tidak lagi mempergunakan pertimbangan sendiri. Padahal dia diberi Allah alat-alat penting agar dia berhubungan sendiri dengan alam yang di kelilingnya. Dia diberi hati, atau akal, atau fikiran untuk menimbang buruk dan baik. Sedang pendengaran dan penglihatan adalah penghubung  di antara diri, atau di antara hati sanubari kita dengan segala sesuatu untuk diperlihatkan  dan dipertimbangkan mudharat dan manfaatnya, atau buruk dan baiknya.

Agar analisis kita lebih utuh, maka makna ayat di atas perlu dikutip seluruhnya sesuai dengan terjemahan Hamka: “Dan janganlah engkau menurut saja dalam hal yang tidak ada bagi engkau pengetahuan padanya. Sesungguhnya pendengaran dan penglihatan dan hati, tiap-tiap satu daripadanya itu akan ditanya.” Nasehat Hamka kepada kita: “Maka wajiblah kita beragama dengan berilmu.” Alam Minangkabau sebelum datangnya gelombang pembaruan faham Islam dilukiskan Hamka dalam kalimat: “Minangkabau khususnya dan Sumatera umumnya, karam di dalam kebekuan agama. Sejak agama Islam masuk dahulu, belumlah bertemu dengan inti agama. Dasar paham ialah paham Sufi Wihdatul Wujud, beragama ialah masuk Suluk. Hukum Fiqhi terikat oleh taqlid buta. Statis!”

syafii-maarif.pluralismaSelanjutnya, kita bicarakan masalah pluralisme agama yang di kalangan sebagian umat Islam dinilai haram, termasuk oleh Majelis Ulama Indonesia dalam sebuah fatwanya pada   tahun 2005. Di era Hamka, masalah pluralisme memang belum diperbincangkan publik di Indonesia. Lalu, bagaimana kira-kira posisi Hamka berkaitan dengan masalah krusial ini? Untuk menjelaskan masalah ini, kita perlu melihat bagaimana penafsiran Hamka terhadap dua ayat dalam dua surat: ayat 62 surat al-Baqarah dan ayat 69 surat al-Mâidah yang banyak menimbulkan kontroversi di kalangan umat Islam. Dua ayat ini perlu pula dikaitkan dengan ayat 85 dalam surat Âli ‘Imrân yang maknanya: “Dan barangsiapa yang menginginkan selain daripada agama Islam menjadi agama, maka sekali-kali tidaklah akan diterima dari padanya. Dan dia pada  hari akhirat adalah seorang dari orang-orang yang rugi.”

Terjemahan Hamka atas ayat 62 al-Baqarah adalah sebagai berikut: “Sesungguhnya orang-orang beriman, dan orang-orang yang jadi Yahudi dan Nasrani dan Shabi’in, barang- siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian dan beramal yang shalih, maka untuk mereka adalah ganjaran di sisi Tuhan mereka, dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan berdukacita.” Dengan substansi yang sama, tetapi dengan redaksi yang sedikit berbeda, ayat 69 surat al-Mâidah, diterjemahkan Hamka: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang  Yahudi dan (begitu juga) orang Shabi’un, dan Nashara, barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, dan diapun mengamalkan yang shalih. Maka tidaklah ada ketakutan atas  mereka dan tidaklah mereka akan berdukacita.”

Dalam menjelaskan ayat 69 surat al-Mâidah, Hamka mengaitkan dengan prinsip toleransi Islam terhadap pengikut agama lain: “Inilah salah satu ayat yang mengandung toleransi besar dalam Islam. Terdapatlah di sini bahwa Islam membuka dada yang lapang bagi sekalian orang yang ingin mendekati Tuhan dengan penuh iman dan amal shalih.” Dalam memberi keterangan atas ayat 62 surat al-Baqarah, Hamka menulis: “Inilah janjian yang adil dari Allah kepada seluruh manusia, tidak pandang dalam agama yang mana mereka hidup, atau merk apa yang diletakkan kepada diri mereka, namun mereka masing-masing akan mendapat ganjaran atau pahala di sisi Tuhan, sepandan dengan iman dan amal shalih yang telah mereka kerjakan.” Kemudian Hamka dengan santun menolak pendapat bahwa ayat ini telah dihapuskan (mansûkh) oleh ayat 85 surat Âli ‘Imrân yang artinya: “Dan barangsiapa yang mencari selain dari Islam menjadi agama, sekali-kali tidaklah akan diterima dari padanya. Dan di Hari Akhirat akan termasuk orang-orang yang rugi.”

Alasan Hamka bahwa ayat ini tidak menghapuskan ayat 62 itu sebagai berikut: “Ayat ini bukanlah menghapuskan (nâsikh) ayat yang sedang kita tafsirkan ini melainkan memperkuatnya. Sebab hakikat Islam ialah percaya kepada Allah dan Hari Akhirat. Percaya kepada Allah, artinya percaya kepada segala firmannya, segala Rasulnya dengan tidak terkecuali. Termasuk percaya kepada Nabi Muhammad s.a.w dan hendaklah iman itu diikuti oleh amal yang shalih.”

Sedikit catatan saya tentang penjelasan Hamka ini, bahwa dua ayat di atas hanya menyebut tiga syarat saja untuk mendapat ganjaran dari Allah dan terbebas dari siksanya: beriman kepada Allah, beriman kepada hari akhir, dan beramal saleh, tidak disebut harus percaya kepada Nabi Muhammad s.a.w. Allâhu a’lam! Tetapi dengan penjelasan Hamka bahwa “…tidak pandang dalam agama yang mana mereka hidup, atau merk apa yang diletakkan kepada diri mereka…” terbukalah kemungkinan tafsiran yang lebih luas kepada pengakuan tehadap pluralisme agama, sekalipun Hamka tidak menyebutkan dalam tafsirnya. Hamka menggunakan ungkapan: “…toleransi besar dalam Islam,” seperti yang baru saja dikutip di atas.

Hamka dan IRF (Islamic Renaissance Front) di Malaysia

Hamka dengan prinsip kemerdekaan akal dan semangat anti taqlidnya telah mengembara cukup jauh sebagai seorang pencari kebenaran, melampaui kebanyakan ulama yang sezaman dengannya. Sekalipun belum sampai mempertanyakan tentang kotak-kotak sempit sunnisme atau syi’isme sebagai produk sejarah, sebagaimana yang telah lebih dari dua puluh tahun saya lontarkan, Hamka telah membuka jalan bagi intelektual Muslim untuk terus bergerak dan bergerak dalam upaya mencari terobosan pemikiran Islam yang lebih dekat kepada semangat autentik al-Qur’an agar manusia berfikir tanpa henti.

Kondisi umat Islam sejagat yang masih berada di buritan peradaban adalah fakta telanjang tentang betapa kita tidak setia lagi kepada Islam al-Qur’an atau Islam kenabian yang mengharuskan kita tampil sebagai wasit peradaban umat manusia, bukan mereka yang diwasiti, seperti yang telah kita derita sejak sektar empat ratus tahun yang lalu.

IRF

Dalam perspektif pemikiran Hamka dan gagasan gerakan pembaruan Islam di Indonesia sejak awal abad ke-20, saya melihat relevansinya dengan apa yang telah digagas dan diperjuangkan oleh IRF di Malaysia sejak pembentukannya pada 12 Desember 2009.

Untuk menjelaskan jati dirinya, IRF menulis: “Sebuah gerakan intelektual dan tanki pemikir yang difokuskan untuk pemberdayaan anak muda dan kemajuan bagi wacana intelektul Muslim.” Pada alinea ketiga, IRF menegaskan hakekat misinya untuk: “Memajukan pemahaman Islam yang terkait dengan isu-isu politik, lingkungan, intelektual, sosial, dan agama yang dapat memberikan dampak atas pembentukan sebuah masyarakat sipil.”

Lebih lanjut dalam  merumuskan dedikasinya, IRF tampaknya tidak mau bergerak kepalang tanggung untuk membebaskan minda umat Islam dari ortodoksi dan konservatisme dengan menggunakan nalar dan rasionalisme. Kita baca: “IRF didedikasikan untuk kebangkitan dan pembaruan Pemikiran Islam dan metodologinya dengan tujuan agar memungkinkan umat berurusan secara efektif menghadapi tantangan-tantangan masa kini dan memberikan sumbangan bagi kemajuan peradaban umat manusia.”

Dibandingkan dengan apa yang sudah berlaku di Minangkabau khususnya dan di Indonesia umumnya, gerakan pembaruan di Malaysia datang sangat terlambat. Tetapi lebih baik terlambat daripada diam samasekali. Kata Iqbal: “Bergerak dengan dosa lebih baik daripada diam berpahala.” Pemikir Pakistan ini dengan filsafat egonya menurunkan dialog imajiner manusia yang sedikit tegang tetapi akrab dengan Tuhan sebagai berikut:

Tuhan mendekritkan:

Keadaannya sudah seperti ini

Usahlah engkau punya usul lagi tentang ini

Manusia menjawab:

Tidak diragukan lagi, keadaannya memang demikian itu

Tetapi harus seperti ini.

Terlihat sekilas dalam kutipan ini, manusia seperti membangkang kepada Tuhan, tetapi yang dimaksud tidaklah demikian. “Yang ingin disampaikan di sini adalah agar manusia tidak mudah menyerah, selama tantangan itu masih berada dalam radius kemanusiaan.” Hamka dalam batas-batas kemanusiaannya telah berbuat dengan semangat keberanian yang tinggi dalam seluruh karya hidupnya untuk kebangkitan Islam sebagai rahmat bagi alam semesta.

Saya membaca filosofi IRF juga berada dalam semangat kebangkitan Islam yang tidak boleh ditunda lebih lama lagi. Untuk memperkaya wawasan keislaman IRF, maka karya-karya tulis Hamka tidak diragukan lagi akan memberikan sumbangan yang tidak kecil. Apa yang sudah saya bentangkan di atas hanyalah pragmen-pragmen belaka dari pemikiran Hamka yang dapat ditelusuri dalam karya-karya tulis yang jumlahnya lebih dari 100 itu. 

PenutupPenutup

Sebagai seorang manusia merdeka yang selalu mencari kebenaran, Hamka telah merintis sebuah kerja besar dalam upaya membangun pilar-pilar peradaban Islam modern, moderat, inklusif, dan punya daya jangkau yang jauh ke depan. Tetapi kerja itu belum selesai, maka adalah tugas dan kewajiban generasi yang datang kemudian untuk meneruskan apa yang telah dirintis Hamka itu yang meliputi berbagai dimensi kehidupan manusia. Hamka sepanjang bacaan saya belum pernah mempertanyakan apakah umat Islam masih harus juga terkurung dalam kontak-kotak sunnisme, syi’isme, kharijisme, dan firqah-firqah yang lain yang semuanya ini muncul setelah era kenabian. Pertanyaannya: apakah kita di abad sekarang masih akan “memberhalakan” firqah-firqah itu dengan mengenyampingkan al-Qur’an sebagai al-furqân (kriterium pembeda) yang mengajarkan konsep kesatuan umat beriman? Untuk menjawab pertanyaan ini, sebuah riset yang luas dan mendalam sangat diperlukan.


Syafii MaarifProf Ahmad Syafii Maarif adalah seorang ulama, ilmuwan dan tokoh pendidik Indonesia. Beliau juga merupakan mantan Ketua Umum Muhammadiyah dan Presiden World Conference on Religion for Peace. Kertas kerja in disampaikan di Seminar Pemikiran Reformis Siri I: Buya Hamka anjuran Islamic Renaissance Front dan Global Movement of Moderates di Conference Room, Global Movement of Moderates Foundation, Menara Manulife, Bukit Damansara, Kuala Lumpur pada tanggal 21 Juni 2014.

Sumber: IRF

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s